Monday, November 26, 2012

Sejarah Ilmu Seni Beladiri Karate bagian 4


Sejarah Lahirnya Seni ilmu Beladiri Karatedo dan aliran Karate Shotokan


Di perempat terakhir abad 19 muncullah nama – nama yang kelak di kemudian hari dianggap sebagai para perintis yang merenovasi Tōte untuk dapat menjadi apa yang kita kenal sebagai Karate.Mereka itu diantaranya adalah Ankichi Arakaki, Chojun Miyagi, Kenwa Mabuni, Kanbun Uechi, Shoshin Nagamine, GICHIN FUNAKOSHI foto bawah), dll. 
Gichin Funakoshi
Sehubungan dengan artikel blog ini adalah pada aliran Shotokan , maka untuk kelanjutan perkembangan sejarah Karate dari awal abad 20 akan saya mulai dengan pemaparan khusus mengenai profil dan sepak terjang Gichin Funakoshi sebagai orang yang paling bertanggungjawab atas munculnya aliran yang dianggap paling banyak memiliki pengikut diseluruh dunia pada saat ini.
Gichin Funakoshi lahir dari kalangan shizoku (keluarga bangsawan) di kota Shuri, Okinawa pada tahun 1868. Masa pendidikannya di usia anak - anak hingga remaja adalah bersamaan dengan dimulainya era modern Jepang, periode Restorasi Meiji.Sehingga hal ini sangat mungkin memberi warna tersendiri bagi perkembangan wawasan pemikiran & kejiwaannya dalam menyebarluaskan Karate kelak dikemudian hari. Dimasa pertumbuhannya ia berada dalam sebuah masa transisi penting , saat dimana nilai – nilai tradisional yang bersifat konservatif-spritual mulai digeser oleh nilai – nilai modern yang bersifat dinamis-liberal. Namun hebatnya, ia mampu untuk memadukan keduanya dalam bentuk sebuah disiplin seni beladiri yang notabene bercitarasa kuno tapi setelah diolah secara unik dapat disajikannya untuk menjadi sebuah hasil peradaban yang sesuai selera modernitas manusia. Sejak kecil badannya tergolong lemah dan sering sakit – sakitan, hingga oleh ayahnya ia dibawa kepada Tokashiki, seorang tabib terkenal di Okinawa pada saat itu.Tabib inilah yang kemudian disamping mengobati penyakitnya secara teratur juga menyarankan pada ayahnya agar Gichin berlatih Tōte untuk dapat memperkuat & menjaga kondisi fisiknya.Pada usia 11 tahun oleh ayahnya ia diantar pada Yasutsune “Anko” Itosu .Guru pertamanya ini terkenal sebagai
guru besar teknik Tōte dari jenis Shuri-Te (yang beraliran Shorin) yang juga sebagai maestro terkenal penggubah Kata dari kedua aliran besar, Shorin & Shorei. Beberapa tahun kemudian Itosu mengantar Gichin pada Yasutsune Azato, teman seperguruannya yang juga ahli Tōte jenis Shuri-Te, untuk lebih meningkatkan penguasaannya akan seluruh jenis Tōte yang ada di Okinawa. Diakhir masa panjang studinya tersebut Gichin juga sempat menimba ilmu secara langsung pada Sokon “Bushi” Matsumura & Kokan Oyadomari. Disamping mempelajari seni beladiri , Gichin juga dikenal gemar mempelajari filsafat dan sastra.Untuk lebih memperdalam pencarian jiwanya akan sebuah inspirasi yang menuntunnya pada pencapaian puncak akan kemurnian nilai filosofis dari Budō , ia sering sekali bermeditasi atau menjelajahi sebuah hutan
cemara ( dalam bahasa Jepang disebut TO ) yang cukup sejuk karena selalu dialiri oleh hembusan angin yang sepoi – sepoi ( dalam bahasa Jepang disebut SHO ) dikaki sebuah bukit yang terkenal dengan sebutan bukit Tora no Maki (harimau yang tak pernah tidur) di pinggiran kota Shuri, Okinawa. Dibidang sastra ia diketahui banyak sekali menulis kaligrafi dan menghasilkan beberapa buah buku penting tentang beladiri (khususnya Karate-dō), yaitu :

1. Ryukyu Kempo : Tōde (1922)
2. Rentan Goshin Karate Jutsu (1925)
3. Karate-dō Kyohan (1936)
4. Karate-dō Nyūmon (1939)
5. Karate-dō , my way of life (1949)


Semua hasil karyanya dibidang sastra ini selalu dibubuhinya dengan tandatangan / stempel yang berbunyi SHOTO. Ditahun 1903 Gichin bersama Itosu untuk pertama kalinya secara resmi memperkenalkan Tōte pada Shintaro Ogawa, seorang pejabat pemerintahan Jepang yang menjabat sebagai kepala sekolah kerajaan tingkat menengah pertama di Naha, Okinawa. Terkesan akan seni beladiri ini maka sang kepala sekolah meminta agar Tōte dimasukkan dalam kurikulum wajib mata pelajaran pendidikan jasmani di sekolahnya.Untuk itu Itosu menggubah lima buah Kata jenis Heian yang diambil dari Kanku-Dai agar dapat dipakai sebagai dasar awal untuk mempelajari Tōte, dan selanjutnya Gichin yang bertindak sebagai
instrukturnya selama belasan tahun. Ditahun 1917 atas permintaan Departemen Pendidikan Jepang maka Direktorat Pendidikan Jasmani pun mempromosikan Gichin untuk mendemonstrasikan Tōte dalam upacara pembukaan Kejuaraan Atletik Nasional di Tokyo. Peragaan Tōte yang dilakukannya mengundang aplaus serta minat banyak pihak dari kalangan akademis yang menyaksikannya saat itu. Ia pun banyak sekali mendapat tawaran dan undangan untuk memperkenalkan lebih jauh tentang seni beladiri Okinawa itu di Jepang.  Ditahun 1922 Gichin hijrah sendirian ke Tokyo dalam rangka menyebarluaskan Tōte sesuai amanat terakhir Itosu yang meninggal pada 1915. Kehidupannya tergolong cukup berat saat itu, pagi ia bekerja sebagai petugas kebersihan dan tukang kebun dan malam harinya ia memberikan latihan khusus pada para mahasiswa di asrama Universitas Suidobata, tempat ia menumpang tinggal untuk sementara. Salah satu murid awalnya pada saat itu yang paling menonjol adalah Hironori Otsuka, yang sebelumnya pernah mendalami Ju-jutsu & Kendo (seni pertarungan pedang dengan penggunaan pedang kayu dalam latihannya).Selang beberapa waktu kemudian “tangan dingin” nya dalam hal pelatihan seni beladiri baru ini dengan cepat tersiar kemana – mana dan mampu untuk membantu kehidupan ekonominya. Hal ini ditunjang pula oleh penerbitan buku pertamanya yang mengupas masalah Tōte secara mendetail, buku itu berjudul “Ryukyu Kempo : Tōde”. Bahkan belakangan ia mampu menyewa tempat khusus untuk berlatih bagi para murid – muridnya dan mendatangkan dua orang putranya.  
Gigo dan Gichin Funakoshi (bapak & anak)
 kedua putranya itu hanya Gigo yang mengikuti jejak Gichin sebagai instruktur,
Sedang dari Yoshihide Funakoshi (putra pertama) & Yoshitaka “Gigo” Funakoshi (putra ketiga) , serta murid utamanya di Okinawa yaitu Takeshi Shimoda untuk membantu ia mengelola usahanya  tersebut.Shimoda dianggap sebagai murid utama Gichin karena ia disamping murid paling senior dan berbakat besar juga menjadi pendamping ataupun guru pengganti Gichin dalam sebuah latihan.dan bagi sementara kalangan di Shotokan Gigo dianggap sebagai seorang jenius karena beberapa inovasi yang dihasilkannya.Ia tercatat sebagai penciptaKizami Zuki, Ura Mawashi Geri, Gyaku Mikazuki Geri, Gyaku Mawashi Geri, Kata

Sochin versi Shotokan dan peletak dasar dari sistem Jiyu Kumite masa kini (hal ini sebenarnya pertama kali merupakan ide yang diusulkan dari tiga orang murid Gichin yang kebetulan
mempelajari Kendo) .  
Ditahun 1925 Gichin mendapat undangan khusus untuk dapat mewakili demonstrasi teknik seni beladiri yang berasal dari Okinawa pada acara rutin tahunan yang digelar oleh Nippon Budōkukai (Asosiasi Beladiri Jepang) di gedung pusat Butoku Den di Kyoto, yang istimewanya dihadiri oleh putra
mahkota Jepang saat itu yaitu Pangeran Hirohito. Namanya pun semakin termasyhur kemana – mana dan salah satu pengagumnya adalah Jigoro Kano, pendiri Judō, yang kemudian mengundangnya untuk mengunjungi Kodokan, Dōjo miliknya yang merupakan pusat latihan seni beladiri terbesar & paling terkenal di Jepang pada jaman itu.Dari Jigoro Kano inilah Gichin mengadopsi beberapa teknik sapuan kaki, bantingan, metode latihan pertarungan dasar, model pakaian & sistem tingkatan ke dalam “kurikulum dan identitas” wajib latihannya, yang tetap dipakai sampai saat ini. Dan yang paling terpenting tentu saja model kurikulum latihan modern & pedoman moral berdasarkan konsep yang didasari pada ajaran Zen asli yang diterapkan oleh Jigoro Kano pada Judō Kodokan.
Jigoro Kano

Didasari oleh konsep Dō ini juga maka Gichin melarang diadakannya jenis pertandingan nomor Kumite, jadi yang ada hanyalah kompetisi nomor Kata di intern Dōjo yang bersangkutan saja.Pada tahun ini juga ia menerbitkan buku berjudul “Rentan Karate Jutsu”,
yang isinya menjelaskan secara jelas perbedaan Karate dengan Ju-jutsu. 
Pada tahun 1932 Gichin membuka dojo resmi pertamanya di Meishojuku, Tokyo.Namun keberhasilan yang baru dimulai ini mulai mendapat cobaan, diawali dengan kematian mendadak Takeshi Shimoda pada tahun 1934 , orang yang sangat diharapkannya menjadi penerus.Belum selesai rasa kehilangan mendalam yang dirasakannya , Gichin dikejutkan oleh pengunduran diri Hironori Otsuka yang rupanya “ribut” dengan Gigo karena sama - sama mengklaim diri sebagai pengganti resmi dari Shimoda. Pada tahun 1935 Hironori Otsuka mendirikan perguruannya sendiri yang ia berinama Wado-Ryu (Aliran Jalan Keharmonian) , sebagai simbol dari tindakan yang dipilihnya dalam perseteruan dengan Gigo.
Hironori Otsuka

Pada tahun yang sama Gogen Yamaguchi, seorang murid utama dari Chojun Miyagi mendirikan Goju-Kai di kota Kyoto yang diafiliasikan pada nama perguruan yang didirikan gurunya di Naha yaitu Goju-Ryu ( Go = keras , Ju =lembut, sedangkan Kai = lembaga/organisasi ).Sebelumnya pada tahun 1930 Kenwa Mabuni mendirikan perguruan Shito-Ryu,dimana nama ini merupakan penggabungan dua kata dalam aksara Kanji Cina yaitu “Ito” dan “Higa” kedalam lafal Jepang yang dimaksudkan sebagaipenghormatan terhadap dua orang gurunya, Anko Itosu dan Kanryo Higaonna. Ditahun 1935 Masaru Sawayama, salah seorang murid utama Kenwa Mabuni,memisahkan diri dan lantas mendirikan Kempo Karate ( aliran Karate yangdikombinasikan dengan Judō & tinju ).Aliran ini oleh para pengamat Budō masih dihitungsebagai sebuah aliran dalam Karate-dō.Perlu diingat harus dibedakan secara jelas keberadaan Kempo Karate yang takmemiliki kaitan apapun dengan Shorinji Kempo yang 
Gogen Yamaguchi

telah lebih dulu ada pada tahun 1930.Meskipun secara sepintas nampak hampir sama dengan Tōte tradisional namun Shorinji Kempo (yang bila diamati seksama sebenarnya banyak mengadopsi teknik bantingan Judō dan kuncian Aikidō) mengklaim tekniknya sebagai lebih“asli” dengan versi murni yang dipakai di Shaolin dan tetap mempertahankan nilai standar tradisionalnya dalam sebuah pertandingan resmi sampai saat ini.Tokoh – tokoh utama Shorinji Kempo adalah Taizen Takemori, MasaharaHisataka & Sho Doshin (Nakano Michiomi).Kembali ke Gichin, menyikapi hal yang terjadi pada perguruannya ia lebih memilih untuk tidak menjadi “hakim” terhadap siapapun dan lalu setelah keluarnya Otsuka ia berkonsentrasi pada penulisan bukunya yang berjudul Karate-dō Kyohan yang diterbitkan pada tahun 1935 . Ada dua hal penting yangdihasilkan oleh bukunya ini, yaitu :
-Yang pertama adalah pemopuleran nama KARATE-DŌ secara besar – besaran untuk mengganti istilah aslinya, TŌTE. Sebenarnya pada tahun 1904 sudah ada penulis buku lain yang bernama Chomo Hanagi yang lebih dulu menggunakan frasa ini dalam bukunya yang berjudul Karate Soshu Hen dan pada periode 1900 ~ 1930-an Tōte juga sering disebut masyarakat Jepang sebagai Karate-jutsu. Namun karena faktor Gichin sebagai seorang guru besar dalam sebuah disiplin seni beladiri maka orang secara umum menganggap

dialah yang berjasa menggubah frasa ini.Sejak tahun 1920-an Gichin sudah sering kali menyebut Karate-dō untuk mengganti istilah Tōte, terutama sejak perkenalannya dengan konsep Dō lewat Jigoro Kano.Hal lain yang lebih mendorongnya untuk mempopulerkan

Jepang saat itu sangat bersifat ultra-nasionalisme dan chauvinisme ( perasaan
Seperti diketahui bahwa pola pandangan masyarakat frasa ini saat itu sangat mungkin adalah faktor “tekanan” politik. kebanggaan yang berlebihan terhadap kehebatan bangsa & negara ).Ditambah lagi dengan pecahnya perang antara Jepang dengan Cina yang berdampak munculnya sentimen akan semua yang “berbau & berasal dari Cina”.


Untuk itulah agaknya ia dengan sepenuh hati secara tegas menggunakan frasa ini (yang mana Tōte berasal dari bahasa Cina) disamping mungkin didasari pemikiran lainnya yang lebih bersifat kecocokan karena frasa KARA yang berarti kosong sesuai dengan tampilan Karate-dō yang tak menggunakan senjata.


-Yang kedua adalah “peresmian” identitas perguruannya.Seperti diketahui sejak awal Gichin tidak pernah menyebutkan perguruannya dalam sebuah nama resmi ataupun berafiliasi pada sebuah aliran yang lebih dulu ada.Para muridnyalah yang sebenarnya berjasa dalam hal ini. Mereka memberikan nama SHOTOKAN pada perguruannya itu didasari penggunaan nama SHOTO pada inisial tandatangan yang sering dipakai Gichin dalam karya – karya sastranya. Kata KAN sendiri berarti sekolah dalam bahasa Jepang.Untuk
lambang perguruan dipakai sebuah gambar harimau dalam bentuk seni grafis
yang berasal dari lukisan Cina kunoyang terdapat pada buku karyanya tersebut. Lambang ini sendiri merupakan karya Hoan Kosugi, sahabat Gichin yang juga seorang pelukis terkenal saat itu. 
Toranomaki


Oleh Gichin lambang ini dinamakan Tora no Maki (Harimau yang tak pernah terdidur) sebagai kenangan pada masa pencarian kesempurnaan jiwanya di Okinawa dulu. Ditahun 1937 Gichin memindahkan Dōjonya ke tempat yang lebih besar di daerah Mejiro.Dōjo ini dijadikan sebagai Dōjo pusat dari seluruh cabang Shotokan yang telah cukup lama dibuka dibanyak kota – kota besar oleh para murid – murid seniornya. Gigo berperan sangat besar dalam latihan di tempat baru ini, bahkan metode yang dipakainya tergolong jauh lebih keras
dibandingkan metode latihan yang dipakai ayahnya. Banyak diantara para murid yang mengakui bahwa kelelahan yang mereka rasakan sangat berat dikarenakan energi yang terkuras sangat banyak bila dibandingkan dengan latihan di tempat lain. Beberapa nama besar yang mulai muncul pada saat itu adalah Isao Obata, Shigeru Egami, Masutatsu Oyama, Masatoshi Nakayama, Hidetaka Nishiyama, Hirokazu Kanazawa, Motokuni Sugiura, Mitsusuke Harada, Tetsuhiko Asai, dll. Periode ini (sampai tahun 1940) tercatat sebagai jaman keemasan yang pertama bagi Shotokan. Di akhir perang (tahun 1945) ada dua kejadian besar yang sangat menggoyahkan jiwa Gichin, pertama hancurnya Dōjo Shotokan karena serangan udara pasukan Sekutu dan yang kedua adalah kematian Gigo setelah menderita sakit bawaan
dari kecil yang diperparah cukup lama akibat buruknya kondisi Tokyo selama perang besar itu berlangsung.  Agaknya setelah perang selesai terjadi “kestagnanan” yang berlangsung cukup
lama, yaitu sekitar tiga-empat tahunan.Diakhir tahun 1948 beberapa murid senior Gichin yang mengepalai Dōjo di universitas – universitas besar terkenal mulai melakukan gebrakan baru untuk keluar dari situasi ini. Mereka berkumpul dalam rangka usaha merintis pembentukan sebuah wadah yang lebih condong pada sentuhan manajemen profesionalisme olahraga Federation). Belakangan SKIF mampu menjadi barometer tandingan bagi JKA, meskipun akhirnya belakangan Katsuya juga berpisah dan mendirikan WSKF (World Shotokan Karate-do Federation) pada tahun 1990. Sepeninggal Nakayama sempat juga terjadi dualisme kepengurusan yang cukup panas modern yang meniru patron dunia olahraga yang berkembang di Amerika Serikat. Gichin bisa menerima konsep ini dengan didasari pemikiran agar Karate bisa tersebar keseluruh penjuru dunia sesuai cita – cita awalnya. 

 Maka ditahun 1949 berdirilah JKA (Japan Karate Association) dengan Gichin Funakoshi sebagai Guru Besar, Isao Obata sebagai Presiden dan Masatoshi Nakayama sebagai Instruktur Kepala. Langkah konsolidasi yang bersifat “go public” ini segera menarik perhatian dari kesatuan – kesatuan pasukan Sekutu yang masih berada sampai jangka waktu yang lama di Jepang setelah Perang Dunia II berakhir.Untuk lebih menarik minat dengan mengandalkan nama besarnya, Gichin yang pada waktu itu sudah berusia 80-an masih sanggup memberikan pelatihan di Dojō JKA dan juga menerbitkan buku terakhir yang berjudul “Karate-dō , my way of life” yang berisikan biografi hidupnya. Para tentara Sekutu itu bukan hanya bergabung di JKA saja dan setelah mempelajari secara serius seni beladiri Jepang lalu membawanya pulang serta menyebarkan olahraga baru ini yang tergolong masih asing di telinga dunia Barat pada saat itu.Perlu dicatat bahwa pada saat itu di Eropa & Amerika orang hanya mengenal Judō & Ju- Jutsu yang tidak memiliki terlalu banyak peminat. Di tahun 1952 untuk pertama kalinya secara resmi sebuah grup yang terdiri atas para perwira muda dan instruktur jasmani militer dikirim oleh Komando Strategis AU Amerika Serikat ke Jepang untuk mempelajari secara serius teknik – teknik Judō, Aikidō & Karate-dō.Program latihan selama tiga bulan ini dimanfaatkan program selesai dengan cepat para murid Gichin yang menjadi instruktur dibawah nama JKA tak pernah sepi dalam menerima permintaaan untukmemperkenalkan sekaligus menjadi instruktur Karate dari seluruh penjuru dunia terutama di Amerika Serikat & Eropa.Persentuhan ini menimbulkan sebuah terobosan yang sangat “revolusioner” bagi pemikiran seorang Gichin Funakoshi yang sederhana, yang selalu mendasarkan ajarannya pada konsep Dō secara total.Hal yang revolusioner itu ialah permintaan dan kebutuhan untuk dapat diadakannya sebuah kompetisi resmi dalam bentuk sebuah kejuaraan. Meskipun sangat jarang sekali dicantumkan dalam biografi tentang dirinya, namun berdasarkan dari fakta serta dokumen yang otentik disebutkan Gichin menolak dengan keras hal ini.Meskipun JKA tak pernah mengakui secara resmi namun pada kenyataannya di tahun 1955 dengan diikuti oleh Shigeru Egami dan Mitsusuke Harada ia memilih keluar dari JKA dan tak pernah kembali lagi. Ia lantas “menyepi” dalam sebuah Dojō yang ia beri nama Shotokai, dimana ia secara total bisa tetap mempertahankan “keaslian” ajaran dan pandangannya tentang Karate-dō. Pada akhir tahun 1956, JKA sebagai sponsor utama sudah mantap untuk menyelenggarakan Turnamen Kejuaraan Karate-dō se-Jepang yang nantinya akan dianggap sebagai kejuaraan resmi pertama yang pernah diadakan di dunia modern. Penyelenggaraannya sendiri baru bisa dilaksanakan pada bulan Oktober 1957 dimana tercatat nama Hirokazu Kanazawa sebagai juara I dalam nomor Kumite (dua tahun berturut – turut) & nomor Kata. Agaknya JKA sendiri sangat mungkin baru “berani” melaksanakan kejuaraan ini setelah Gichin tidak ada. Gichin Funakoshi , sang maestro besar peletak metode baru dalam pemahaman akan sebuah seni beladiri yang dinamakannya Karate-dō (yang mendasari orang untuk menganggapnya sebagai Bapak Karate Modern) , tutup usia pada tanggal 26 April 1957 dalam usia ± 89 tahun. Sepeninggal Gichin Funakoshi JKA berkembang pesat dan bisa dianggap sebagai perguruan Karate yang paling besar pengaruhnya diseluruh dunia. Dalam hal ini ada dua orang yang bisa dianggap paling berperan besar. Yang pertama adalah Masatoshi Nakayama, ia melakukan banyak lawatan ke puluhan negara dalam rangka penyebaran Karate yang dilakukannya secara sistematis setelah menelaahnya sesuai ilmu keolahragaan modern yang memang sangat dikuasainya sebagai seorang profesor pada jurusan Pendidikan Jasmani di Universitas Takushoku. Nakayama menulis banyak buku tentang Karate-dō namun sayang ia meninggal mendadak pada tahun 1987. Yang kedua adalah Hidetaka Nishiyama, ia merupakan perintis awal penyebaran Karate di Amerika Serikat tempat dimana ia menetap sampai saat ini dan termasuk orang yang bisa dikategorikan sangat sukses secara ekonomi untuk ukuran praktisi seorang olahragawan. Nishiyama dalam latihannya lebih berpatokan pada segi teknik konservatif-tradisional dari Karate yang sudah baku tapi mampu disampaikannya secara luwes dan efisien. Tahun 1975 ia mendirikan IAKF (International Amateur Karate Federation) yang mana pada tahun 1985 berganti nama menjadi ITKF (International Traditional Karate-dō Federation). Saat ini ITKF a dalah pesaing utama WKF dalam kancah politik per Karate an dunia agar dapat diakui bersama secara resmi oleh IOC (Komite Olimpiade  Internasional). Nampaknya hal utama yang menjadi penyebab persaingan yang cukup “panas” ini lebih dikarenakan oleh faktor chauvinisme lagi seperti halnya di era Gichin Funakoshi dulu. Dominasi tokoh Karate yang berasal dari dunia Barat dalam WKF tentu saja akan dianggap sebuah “penghinaan” tersendiri bagi para tokoh Karate di Jepang yang menganggap dirinya sebagai pewaris resmi dari  produk budaya mereka namun disaingi oleh pihak asing yang bukan berasal dari kultur yang sama. Di tahun1977, JKA sempat digemparkan dengan kasus keluarnya Hirokazu Kanazawa dan Hitoshi Katsuya yang mendirikan SKIF (Shotokan Karate-dō International  antara Motokuni Sugiura dengan Tetsuhiko Asai .Perseteruan dimulai tahun 1990 dan baru berakhir setelah melalui tingkat vonis oleh Mahkamah Agung di Tokyo pada tahun 1999. Motokuni Sugiura lah yang memperoleh
pengesahan secara hukum dan setelah kekalahannya itu, Tetsuhiko Asai pada  tahun yang sama mendirikan JKS (Japan Karate Shotorenmei). Saat ini bisa dikatakan JKA lebih tepat disebut sebagai sebuah konglomerasi olahraga daripada sekedar sebuah perguruan besar dikarenakan memiliki aset, dukungan dana maupun usaha sampingan yang sangat besar sekali bahkan koneksi bisnis & politiknya sangat menggurita kemana – mana diseluruh dunia. Disamping lewat JKA pengembangan Shotokan juga dilakukan pada tahun 1965 oleh Shigeru Egami yang memproklamirkan Shotokai sebagai sebuah organisasi Karate-do dalam bentuk resmi. Setelah ia meninggal posisinya digantikan oleh Mitsusuke Harada. Shotokai pun memiliki pengikut yang cukup besar diseluruh dunia dan tetap mempertahankan keaslian ajaran Gichin yaitu tidak mengenal adanya pertandingan apapun untuk mengukur keberhasilan seorang karateka yang menjadi praktisinya. Sebelumnya pada tahun 1948 Chojiro Tani mendirikan Shukokai, sebuah perguruan yang mengkombinasikan teknik – teknik Goju-ryu & Shito-ryu. Salah seorang muridnya yang bernama Nambu Yoshinao memperkenalkan aliran baru ini ke Prancis yang kemudian mendapatkan antusias yang sangat positif di Eropa dikarenakan metodenya yang dianggap sangat cocok untuk diterapkan dalam rangka memenuhi keinginan masyarakat Karate Eropa akan pengembangan Karate sebagai sebuah olahraga yang bercitarasa modern. Ditahun 1965 Nambu Yoshinao mendirikan alirannya sendiri yaitu Nambu-Dō. Tommy Morris, salah seorang pengikut Nambu Yoshinao yang berasal dari Skotlandia belakangan mendirikan perguruannya sendiri yang bernama Kobe Osaka Karate System. Hal ini perlu dimasukkan disini dikarenakan besarnya pengaruh yang dimainkan oleh Tommy Morris dalam hal penyusunan peraturan pertandingan yang diadopsi sebagai standar resmi oleh WKF pada saat ini. Peraturan yang digubah olehnya sangat mengacu pada sumber utama ajaran Shukokai yang lebih memfokuskan pada unsur observasi ketimbang tradisi. Di Okinawa pada tahun 1956, Chosin Chibana yang merupakan guru besar dari aliran Shuri-Te membentuk Okinawa Karate-dō Renmei sebagai federasi resmi bagi seluruh aliran Karate yang ada di Okinawa. Pada tahun 1957 Masutatsu Oyama yang sebelumnya sempat mempelajari Shotokan langsung dari Gichin Funakoshi dan juga sekaligus pernah mendalami Goju-ryu mendirikan Kyokushinkai , aliran baru yang diciptakannya setelah mengkombinasikan teknik Shotokan, sistem perkelahian jalanan dan teknik pernapasan serta Kata dari Goju-ryu yang dikembangkannya melalui pengkajian secara serius dalam waktu yang cukup lama. Alirannya ini dianggap cukup ekstrem oleh sebagian pakar Karate-dō dikarenakan model pertarungannya yang menggunakan sistem Full Body Contact seperti halnya pada pertarungan tinju. Pada tahun 1965 berdirilah FAJKO (Federation of All-JapanKarate-dō Organizations) sebagai wadah bersama dari empat aliran besar yang
ada di Jepang : Shotokan, Shito, Goju dan Wado.Hal ini disusul oleh berdirinya EKF  (European Karate-dō Federation) yang diprakarsai oleh Henry D. Plee dari Prancis.Bersama FAJKO, EKF membidani lahirnya WUKO (World Union Karate Organizations) serta  penyelenggaraan kejuaraan dunia Karate pertama pada tahun 1970.Saat ini WUKO telah berganti nama menjadi WKF (World Karate Federation) dan hanya mengakui empat aliran saja yaitu : Shotokan, Shito-ryu, Goju-ryu & Wado-ryu. Sebagai federasi dunia WKF membawahi lima konfederasi yang mewakili lima regional utama internasional yaitu :

1. UAKF (Union of African Karate Federation)
2. AKF (Asian Karate Federation)
3. EKF (European Karate Federation)
4. OKF (Oceanian Karate Federation)
5. PKF (PanAmerican Karate Federation)
Berbeda dengan di Indonesia maka hampir semua organisasi / perguruan Karate besar di dunia saat ini pada umumnya secara tegas menyatakan dirinya sebagai lembaga yang murni bergerak hanya pada bidang olahraga secara profesional dan bukan merupakan organisasi yang bersifat / berkaitan dengan unsur sosial politik apapun juga.

TAMAT.

Sumber: Artikel diambil dari buku-buku PBFORKI


1 comment:

  1. Thanks ya sob udah share , blog ini sangat bermanfaat sekali ..............




    agen tiket murah

    ReplyDelete